Posted by: donyariya | December 12, 2008

memulai mencintai produk Indonesia

Aku Cinta Produksi Indonesia

Aku Cinta Produksi Indonesia

Tulisan ini saya buat setelah membaca blognya eksinads. Sempet bingung juga sih, Name it ! berapa banyak produk dalam negeri yang kamu pakai. Bahkan setelah kita bisa menyebutkan timbul pertanyaan selanjutnya apakah kita bangga memakai produk tersebut ?. wah bakalan panjang tuh.

Ini cuman pendapat dari orang awam yang sok tahu sih, kita (baca saya dan orang-orang sok lainnya) cenderung untuk tidak punya rasa bangga akan produk dalam negeri, menurut saya suatu hal yang sangat susah, jika rasa bangga saja sudah tidak ada bagaimana mungkin seseorang bisa dipaksa untuk menggunakan produk dalam negerinya.

okay, ini cuman salah satu tulisan, yang saya kira juga mungkin sudah banyak bertebaran di mana-mana tentang mencintai produk dalam negeri. cuman kok (menurut saya) kurang fair yah… selalu ditekankan ke arah konsumen yang dipaksa untuk memakai produk dalam negeri tanpa adanya hubungan timbal balik yang sama (paksaan) ke arah produsen.

It is a simple thing menurut saya. Ada saat dimana membangun kebanggaan itu seharusnya dimulai dari sisi produsennya. Entah bagaimana caranya, tapi kalau memang perlu produsen indonesia perlu belajar banyak sama produk luar sana. bagaimana Nike membangun merk-nya atau coba lihat produk2 harian seperti P&G dan Unilever memelihara kebanggaan konsumen akan produk mereka.

iya kan ? rasanya begitu kebanggaan itu muncul, pemerintah atau pihak manapun tidak akan susah untuk sibuk memasyarakatkan jargon “Aku Cinta Produk Indonesia”. Belajar dari Sosro, bagaimana teh botol itu begitu memasyarakat, begitu terkenal di pasar, coba lihat produksi teh dari merk lain, mereka ngos-ngosan hanya mencoba mengambil sedikit share dari Teh Botol Sosro.

Nah pertanyaan saya, adakah korelasi dari himbauan untuk cinta produk indonesia dengan lakunya produk teh botol. Adakah persepsi dari konsumen bahwa membeli teh botol berarti membeli produk indonesia, atau sebaliknya. Saya kira tidak ! persepsi pertama konsumen adalah teh tersebut enak dan cocok dengan selera. Simple kan ?

So…hanya saran mungkin perlu dikembangkan juga satu konsep dari produsen lokal yang mampu untuk memanage merk mereka sehingga nantinya di pasar, merk tersebut mampu untuk bersaing dengan merk-merk internasional lainnya.

Yakin lah satu saat akan ada kebanggaan terhadap produk indonesia. Dan pastinya kebanggaan itu bukan kebanggaan semu belaka. Dan dengan kebanggaan yang sudah melekat, secara langsung akan menggerakan kegiatan pembelian produk dalam negeri, dan tentunya menggerakkan perekonomian dan mengurangi ketergantungan terhadap dunia luar.

:) Hanya saran yang bodoh, mungkin ada gunanya.

gambar di ambil dari sini


Responses

  1. kalo emang ada produk dalam negeri kenapa harus beli produk luar negeri??

    saya yakin semua orang beli produk luar negeri juga karena memang ga ada produk dalam negerinya,… ya ngga sih?? *au agh*

  2. Saya rasa sebenarnya banyaknya penggunaan produk dalam negeri dan kebanggan akan produk dalam negeri adalah 2 hal berbeda.

    Di Indonesia, orang pasti lebih banyak menggunakan produk dalam negeri karena lebih mudah didapat & harga lebih terjangkau. Mereka menyukai hasil yang didapat juga, namun jika ditanya apakah mereka bangga? Mereka pasti lebih mengakui kalau menggunakan produk luar akan jauh lebih bergengsi.
    Jadi masalah di Indonesia adalah terletak pada paradigma bahwa produk luar memiliki nilai prestisius lebih tinggi. Suatu kondisi di mana masyarakat kita lebih mementingkan status daripada nilai fungsi.

    Di Amerika, katakanlah, masyarakat lebih memihak kepada produk dalam negeri mereka karena dinilai lebih aman dikonsumsi & dipakai daripada produk luar, terutama Asia. Warga mereka bangga bahwa produk mereka memiliki kualitas yang begitu baik sampai pada tingkat safety-nya.

    Jadi bukankan semua itu terletak pada pengemasan si produk dan pengkomunikasian pada masyarakat? Jika suatu produk dibuat baik dan dikomunikasikan sehingga masyarakat merasa mereka mendapat lebih dari sekedar produk jika membelinya.. tidakah itu membangun loyalitas juga?

    Dan pemerintah saya rasa juga masih bersifat setengah hati dalam membangun loyalitas publik terhadap produk lokal. Aku cinta produk lokal? yes, but why should I love it? Cinta tidak dapat dipaksakan kan? Cinta itu proses… Love is like trust.. you gotta earn it.

    It’s a good post you made Don… I hope you don’t mind me babbling here :)

  3. setuju banget! good post!
    menurut hasil riset Frontier, salah satu dr 10 karakter unik masyarakat Indonesia adalah suka pamer dan gengsi, dan suka merek luar negeri.

    nah, sekarang.. produsen harus cari cara dong. gimana bikin produk yang bisa naikin gengsi? selain kualitas harus bagus, salah satunya adl pake nama2 yg berbau luar, dan saya ga pernah nyangka bahwa merek2 ini adl ternyata buatan dalam negeri: Country Fiesta, Contempo, The Executive, Vinoti Living dll..

  4. @waterbomm : itu dia masalahnya mam, bahkan ketika ada pun, produk tersebut secara kualitas belum bisa memenuhi kebutuhan konsumen. :)

    @LeonnieFM : jadi semua keterpaksaan aja yah ? lebih tepatnya mungkin penyesuaian terhadap kemampuan membeli dari masyarakat kita itu sendiri. kalaupun bisa memilih (baca : mempunyai dana lebih) cenderung akan memilih barang yang secara kualitas dan image dapat dipertanggung jawabkan. itulah masalahnya mba…produsen kita kurang peka dalam hal membangun loyalitas, terlalu kepada naked cost yang akan dibelanjakan ketika mereka berusaha membangun loyalitas. padahal kan hitungan payback-nya tidak sesederhana itu. banyak benefit yang akan di dapat mungkin tidak akan dalam waktu cepat. produsen kita terlalu terburu-buru akan hasil dan cenderung berpuas diri menjadi penyemarak pasar saja :) .
    don’t mind at all mbak. i like your response :) . thanks

    @rinella : untuk nama berbau luar itu ada risetnya ga rin ? semacam survey atau apa ? bukan apa-apa kadang karakter market kita itu aneh lo. contoh kijang, nama yang sangat indonesia bisa banget di terima pasar kan ? dan coba deh lihat malah kadang banyak nama berbau luar gagal di pasar :) , eniwei dari semua nama yang lu sebutin, gw juga ga nyangka kalau Vinoti Living itu buatan kita :) . makasih buat pujiannya yah *geer*

  5. Hehehe mungkin sebenernya Mau pake produk Indonesia, cuma “Ada atau tidak?” :D hehee coba liat sabun, odol, shampoo, sikat gigi, beras, jam tangan yang dipake sehari-hari, buatan mana? Kenapa untuk hal sesimple sabun aja kita ga bisa bikin? Padahal mungkin marginnya kecil, tp dipake dan dibutuhkan semua org. Ini aja sih yg jadi concern gue. Orang US/Eropa pake produk mereka dan ekspansi keluar negaranya, ada gak sabun kita yang sampe ke US/Eropa? Kenapa ya, hal kecil gini aja kita gak mampu? :P

    Gak usah bangga atau gak dulu deh, kita pake produk karena benefit nya, bukan karena bikinan mana. Kita gak segitu aware nya kan Close Up itu buatan Unilever yang bukan produk Indonesia, cuma udah kaya produk Indo aja. Coba ada merk pasta gigi yg buatan Indo, kalau sama massive nya kaya Close Up, “kemungkinan” dia dibeli sama konsumen juga besar kan? :D

  6. @ekSi : yup setuju..dari awal juga kan gw dah suka ama tulisan lu hehehe makanya terinspirasi, dan ngerasa kok ada yang gag fair yah. selalu dibebankan ke konsumennya, tanpa pernah ada yang lihat ke produsennya.
    btw masalah margin itu.. mungkin juga alasannya yah (thinking), apa kita sebego itu yah sampe bikin sabun aja ga bisa ?


Leave a response

Your response:

Categories